Kamis, 16 Juli 2015

Sejarah Surabaya Masa Penjajahan - Saat era kerajaan dan dibarengi dengan era masuknya bangsa Portugis dan Spanyol, Surabaya mengalami banyak perubahan. Perubahan itu sampai Pada era Hindia Belanda atau saat jaman Belanda menduduki Indonesia selam 3,5 Abad. Surabaya saat itu mempunyai status sebagai Ibu Kota Keresidenan Surabaya, wilayah keresidenannya mencakup sampai diwilayah yang saat ini menjadi tetangga seperti Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, dan Jombang . Pada perkembangan Surabaya sebagai wilayah yang strategis dalam hal perdagangannya, pada tahun 1905, Surabaya mendapat status Kotamadya (Gemeente) yang artinya saat ini berstatus Kota. Kemudian pada tahun 1926 nya, Kota Surabaya ditetapkan sebagai ibu kota provinsi Jawa Timur dan sekaligus menjadi kota terbesar di Jawa Timur. Dan Surabaya berkembang menjadi kota modern terbesar kedua di Hindia-Belanda setelah Batavia (Jakarta).
Jembatan Merah Tempo Dulu. Sumber
Seperti pada artikel sebelumnya, sebelum tahun 1900, pusat kota Surabaya hanya ada di sekitaran Jembatan Merah. Sampai akhirnya pada tahun 1920-an, Surabaya mempunyai pemukiman baru seperti halnya daerah Darmo, Gubeng, Sawahan, dan Ketabang, dan Woonokromo.
Penguasaan bangsa Belanda saat itu hingga menekuk mundur pasukan kita dan menduduki bebrapa daerah penting di Indonesa selama 350 tahun itu berakhir dengan jatuhnya kekuasaan karena pendudukan bangsa Jepang. Atas dasar penguasaan pasukan jepang itu, pada tanggal 3 Februari 1942, Jepang meledakkan bom di Surabaya, sehingga memporak porandakan keadaan Surabaya dan saat itu pula bulan Maretnya, Surabaya jatuh ditangan Jepang.Penguasaan atas kota Surabay saat iru masih terus terjadi, berbagai serangan dilakukan untuk membekukan kota Surabaya, pada tanggal 17 Mei 1944 Jepang melakukan serangkaian serangan udara yang membuat Surabaya tidak lagi berdaya dan menyerah..

Perebutan Kembali Kota Surabaya
Surabaya pada saat pendudukan Jepang awalnya mempunyai banyak keuntungan, diantaranya adalah pembebasan penjajahan terhadap Belanda saat itu. Namun perkonsian itu mengakibatkan kerugian pada pihak Indonesia. Kisah dramatik ini dikisahkan didalam film Sang Kiai. Kekejaman Jepang yang membabi buta, menerapkan sistem perbudakan baru (romusha) yang kejam dan miris akhirnya membuat geram rakyat.

Seusai Perang Dunia ke II pada tanggal 25 Oktober 1945, kembali Indonesia kedatangan pasukan penjajah baru dari Inggris-India yang berjumlah 6000 pasukan  yaitu brigadir 49 dari divisi 23 yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby (atau disingat AWS Mallaby), kedatangan pasukan ini ke Surabaya adalah tidak lain bertujuan melucuti senjata sekutu Jepang dan juga para milisi. Karena jumlah rakyat kita yang lebih banyak, mereka tidak menuruti perintah itu, maka terjadilah pertempuran besar di Surabaya. Detail tanggal terjadinya peristiwa tersebut yaitu dibawah ini:

26 Oktober 1945
Terjadi persetujuan antara R.M. Soerjo (Gubernur Jawa Timur) dengan Brigjen AWS Mallaby. Persetujuan tersebut menyatakan bahwa pasukan Indonesia dan milisi tidak perlu menyerahkan senjata mereka keoada pasukan penjajah. Namun persetujuan ini terjadi sedikit salah paham antara pasukan Inggris di Surabaya dan markas besar di Jakarta yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Philip Christison.

27 Oktober 1945
Esoknya pada jam 11.00 siang, pesawat Dakota AU milik tentara Inggris dari Jakarta menjatuhkan selebaran di Kota Surabaya. Isi dari selebaran itu adalah perintah agar tentara Indonesia dan milisi menyerahkan senjata. Hal ini bersingguhan lain dengan perjanjian sebelumnya ditanggal 26 Oktober 1945. 

28 Oktober 1945
Karena dianggap melanggar persetujuan, pasukan Indonesia dan milisi menggempur pasukan Inggris yang bermarkas di Surabaya. Untuk menghindari kekalahan di kota Surabaya, Brigjen AWS Mallaby meminta Presiden RI Sukarno dan panglima pasukan Inggris Divisi 23, Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn untuk pergi ke Surabaya agar mengusahakan perdamaian dengan adanya perundingan.

29 Oktober 1945
Keesokan harinya, Presiden Sukarno, Wapres Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin Harahap beserta Mayjen Hawthorn pergi ke Surabaya untuk berunding masalah perdamaian itu

Pada tangga 28-29 Oktober bertepatan dengan hari sumpah pemuda juga menambah amarah dan emosi para pemuda saat itu..

30 Oktober 1945,
Pada siang hari, dicapai persetujuan yang ditanda-tangani oleh Presiden RI Sukarno dan Panglima Divisi 23 Mayjen Hawthorn. Isi perjanjian tersebut adalah diadakan perhentian tembak menembak dan pasukan Inggris akan ditarik mundur dari Surabaya secepatnya. Mayjen Hawthorn dan ke 3 pimpinan RI meninggalkan Surabaya dan kembali ke Jakarta.

30 Oktober 1945,
Sore hari, Brigjen AWS Mallaby berkeliling-keliling ke berbagai pos pasukan Inggris yang ada di Surabaya, guna memberitahukan soal persetujuan baru tersebut. Ketika mendekati pos pasukan Inggris di gedung Internatio (dekat Jembatan Merah), mobil Brigjen Mallaby dikepung oleh milisi yang sebelumnya telah mengepung gedung Internatio. Melihat pemandangan ramai mengepung mobil komandannya, salah satu dari tentara Inggris menembakkan tempakan peringatan agar bubar. Karena kegaduahn itu dan kondisi yang buruk, ada salah satu milisi yang terdesak mendekati mobil dan menembakkan kearah AWS Mallaby. Melihat komandannya yang sudah ditembak, salah satu dari pasukan Inggris yang bernama Kapten R.C. Smith melempar granat kearah mobil AWS Mallaby, dimana milisi tersebut ada didekat mobil. Granat meledak menewaskan milisi, AWS Mallaby dan juga supirnya.

Letjen Sir Philip Christison marah besar mendengar kabar kematian Brigjen Mallaby dan mengerahkan 24.000 pasukan tambahan untuk menguasai Surabaya.

9 November 1945
Inggris kembali menyebarkan ultimatum lewat jalur udara. Bunyi ultimatum itu adalah agar semua senjata tentara Indonesia dan milisi segera menyerahkan didri ke tentara Inggris, tetapi ultimatum ini tidak diindahkan.

10-20 November 1945
Terjadi perang berdarah antara para milisi dan rakyat melawan Inggris. Inggris mulai membom Surabaya dengan berbagai serangan. Perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Dua pesawat Inggris yang terbang melanglah buana diatas langit Surabaya pun berhasil ditembak jatuh pasukan RI dan salah seorang penumpang Brigadir Jendral Robert Guy Loder-Symonds terluka parah dan meninggal keesokan harinya paska perang.

Pertempuran ini adalah salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami oleh pasukan Inggris pada dekade 1940-an atau abad ke 19 an. Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi.

Karena sengitnya pertempuran dan besarnya korban jiwa, setelah pertempuran ini, jumlah pasukan Inggris di Indonesia mulai dikurangi secara bertahap dan digantikan oleh pasukan Belanda. Pertempuran tanggal 10 November 1945 tersebut hingga sekarang dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Sejarah Surabaya Masa Penjajahan - Saat era kerajaan dan dibarengi dengan era masuknya bangsa Portugis dan Spanyol, Surabaya mengalami banyak perubahan. Perubahan itu sampai Pada era Hindia Belanda atau saat jaman Belanda menduduki Indonesia selam 3,5 Abad. Surabaya saat itu mempunyai status sebagai Ibu Kota Keresidenan Surabaya, wilayah keresidenannya mencakup sampai diwilayah yang saat ini menjadi tetangga seperti Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, dan Jombang . Pada perkembangan Surabaya sebagai wilayah yang strategis dalam hal perdagangannya, pada tahun 1905, Surabaya mendapat status Kotamadya (Gemeente) yang artinya saat ini berstatus Kota. Kemudian pada tahun 1926 nya, Kota Surabaya ditetapkan sebagai ibu kota provinsi Jawa Timur dan sekaligus menjadi kota terbesar di Jawa Timur. Dan Surabaya berkembang menjadi kota modern terbesar kedua di Hindia-Belanda setelah Batavia (Jakarta).

Jembatan Merah Tempo Dulu. Sumber
Seperti pada artikel sebelumnya, sebelum tahun 1900, pusat kota Surabaya hanya ada di sekitaran Jembatan Merah. Sampai akhirnya pada tahun 1920-an, Surabaya mempunyai pemukiman baru seperti halnya daerah Darmo, Gubeng, Sawahan, dan Ketabang, dan Woonokromo.
Penguasaan bangsa Belanda saat itu hingga menekuk mundur pasukan kita dan menduduki bebrapa daerah penting di Indonesa selama 350 tahun itu berakhir dengan jatuhnya kekuasaan karena pendudukan bangsa Jepang. Atas dasar penguasaan pasukan jepang itu, pada tanggal 3 Februari 1942, Jepang meledakkan bom di Surabaya, sehingga memporak porandakan keadaan Surabaya dan saat itu pula bulan Maretnya, Surabaya jatuh ditangan Jepang.Penguasaan atas kota Surabay saat iru masih terus terjadi, berbagai serangan dilakukan untuk membekukan kota Surabaya, pada tanggal 17 Mei 1944 Jepang melakukan serangkaian serangan udara yang membuat Surabaya tidak lagi berdaya dan menyerah..

Perebutan Kembali Kota Surabaya
Surabaya pada saat pendudukan Jepang awalnya mempunyai banyak keuntungan, diantaranya adalah pembebasan penjajahan terhadap Belanda saat itu. Namun perkonsian itu mengakibatkan kerugian pada pihak Indonesia. Kisah dramatik ini dikisahkan didalam film Sang Kiai. Kekejaman Jepang yang membabi buta, menerapkan sistem perbudakan baru (romusha) yang kejam dan miris akhirnya membuat geram rakyat.

Seusai Perang Dunia ke II pada tanggal 25 Oktober 1945, kembali Indonesia kedatangan pasukan penjajah baru dari Inggris-India yang berjumlah 6000 pasukan  yaitu brigadir 49 dari divisi 23 yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby (atau disingat AWS Mallaby), kedatangan pasukan ini ke Surabaya adalah tidak lain bertujuan melucuti senjata sekutu Jepang dan juga para milisi. Karena jumlah rakyat kita yang lebih banyak, mereka tidak menuruti perintah itu, maka terjadilah pertempuran besar di Surabaya. Detail tanggal terjadinya peristiwa tersebut yaitu dibawah ini:

26 Oktober 1945
Terjadi persetujuan antara R.M. Soerjo (Gubernur Jawa Timur) dengan Brigjen AWS Mallaby. Persetujuan tersebut menyatakan bahwa pasukan Indonesia dan milisi tidak perlu menyerahkan senjata mereka keoada pasukan penjajah. Namun persetujuan ini terjadi sedikit salah paham antara pasukan Inggris di Surabaya dan markas besar di Jakarta yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Philip Christison.

27 Oktober 1945
Esoknya pada jam 11.00 siang, pesawat Dakota AU milik tentara Inggris dari Jakarta menjatuhkan selebaran di Kota Surabaya. Isi dari selebaran itu adalah perintah agar tentara Indonesia dan milisi menyerahkan senjata. Hal ini bersingguhan lain dengan perjanjian sebelumnya ditanggal 26 Oktober 1945. 

28 Oktober 1945
Karena dianggap melanggar persetujuan, pasukan Indonesia dan milisi menggempur pasukan Inggris yang bermarkas di Surabaya. Untuk menghindari kekalahan di kota Surabaya, Brigjen AWS Mallaby meminta Presiden RI Sukarno dan panglima pasukan Inggris Divisi 23, Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn untuk pergi ke Surabaya agar mengusahakan perdamaian dengan adanya perundingan.

29 Oktober 1945
Keesokan harinya, Presiden Sukarno, Wapres Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin Harahap beserta Mayjen Hawthorn pergi ke Surabaya untuk berunding masalah perdamaian itu

Pada tangga 28-29 Oktober bertepatan dengan hari sumpah pemuda juga menambah amarah dan emosi para pemuda saat itu..

30 Oktober 1945,
Pada siang hari, dicapai persetujuan yang ditanda-tangani oleh Presiden RI Sukarno dan Panglima Divisi 23 Mayjen Hawthorn. Isi perjanjian tersebut adalah diadakan perhentian tembak menembak dan pasukan Inggris akan ditarik mundur dari Surabaya secepatnya. Mayjen Hawthorn dan ke 3 pimpinan RI meninggalkan Surabaya dan kembali ke Jakarta.

30 Oktober 1945,
Sore hari, Brigjen AWS Mallaby berkeliling-keliling ke berbagai pos pasukan Inggris yang ada di Surabaya, guna memberitahukan soal persetujuan baru tersebut. Ketika mendekati pos pasukan Inggris di gedung Internatio (dekat Jembatan Merah), mobil Brigjen Mallaby dikepung oleh milisi yang sebelumnya telah mengepung gedung Internatio. Melihat pemandangan ramai mengepung mobil komandannya, salah satu dari tentara Inggris menembakkan tempakan peringatan agar bubar. Karena kegaduahn itu dan kondisi yang buruk, ada salah satu milisi yang terdesak mendekati mobil dan menembakkan kearah AWS Mallaby. Melihat komandannya yang sudah ditembak, salah satu dari pasukan Inggris yang bernama Kapten R.C. Smith melempar granat kearah mobil AWS Mallaby, dimana milisi tersebut ada didekat mobil. Granat meledak menewaskan milisi, AWS Mallaby dan juga supirnya.

Letjen Sir Philip Christison marah besar mendengar kabar kematian Brigjen Mallaby dan mengerahkan 24.000 pasukan tambahan untuk menguasai Surabaya.

9 November 1945
Inggris kembali menyebarkan ultimatum lewat jalur udara. Bunyi ultimatum itu adalah agar semua senjata tentara Indonesia dan milisi segera menyerahkan didri ke tentara Inggris, tetapi ultimatum ini tidak diindahkan.

10-20 November 1945
Terjadi perang berdarah antara para milisi dan rakyat melawan Inggris. Inggris mulai membom Surabaya dengan berbagai serangan. Perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Dua pesawat Inggris yang terbang melanglah buana diatas langit Surabaya pun berhasil ditembak jatuh pasukan RI dan salah seorang penumpang Brigadir Jendral Robert Guy Loder-Symonds terluka parah dan meninggal keesokan harinya paska perang.

Pertempuran ini adalah salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami oleh pasukan Inggris pada dekade 1940-an atau abad ke 19 an. Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi.

Karena sengitnya pertempuran dan besarnya korban jiwa, setelah pertempuran ini, jumlah pasukan Inggris di Indonesia mulai dikurangi secara bertahap dan digantikan oleh pasukan Belanda. Pertempuran tanggal 10 November 1945 tersebut hingga sekarang dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Senin, 15 Juni 2015

Sejarah Surabaya Jaman Kerajaan
Sejarah Suroboyo (Surabaya) Jaman Kerajaan - Sudah kita ketahui bersama, Surabaya adalah kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia dan sekaligus terbesar di provinsi Jawa Timur. Mengenai sejarah kota Surabaya, Surabaya merupakan pangkal sejarah yang unik dan menarik jika ditelusuri. Surabaya dulu adalah pintu utama gerbang masuknya Kerajaan Majapahit, yakni terletak di muara Kali Mas. Muara Kali Mas (Sungai Mas) dulunya memang jalur yang strategis bagi para pendatang atau saudagar dari negeri lain.

Pada tanggal 31 Mei 1293, pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) menang telak terhadap pasukan kerajaan Mongol utusan dari Kubilai Khan (pasukan perang dari Negeri Mongolia). Kedatangan pasukan kerajaan Mongol saat itu digambarkan sebagai ikan Suro (Ikan Hiu) yang datang dari laut (karena menggunakan kapal), sementara itu pasukan Raden Wijaya dari Majapahit dilambangkan sebagai Boyo (buaya), pertarungan yang membuahkan hasil kemenangan bagi Kerajaan Majapahit inilah sehingga pada tanggal tersebut menjadi hari jadi Kota Surabaya sampai saat ini.

Di abad ke 14 setelah masa kejayaan Kerajaan Majapahit, Majapahit beransur-ansur melemah dan wilayah kekuasaannya mulai berkurang pula. Penyebabnya adalah banyak konflik yang terjadi dilingkup internal kerajaan, mulai dari perebutan kekuasaan, perang paregreg (perang saudara, 1405-1405), sehingga mengakibatkan lemahnya pengendalian daerah yang dikuasai oleh kerajaan Majapahit. Ditambah dengan ekspansi ekspedisi laut Dinasti Ming yang dipimpin oleh seorang Tionghoa Muslim yang bernama Laksamana Cheng Ho, sehingga megurangi pengaruh Majapahit karena ekspansi komunitas Muslim Tionghoa dan juga komunitas Arab.

Pada awal abad ke-15, penyebaran agama Islam mulai menyebar dengan sangat pesat di daerah Surabaya. Perkembangan agama Islam di pulau Jawa sangat erat hubungannya dengan Wali Songo, Salah satu dari Wali Songo tersebut yang bernama Raden Rahmat (1401-1481) atau lebih akrab dengan nama Sunan Ampel, mendirikan sebuah masjid dan pesantren di kawasan Ampel pada tahun 1530, Surabaya saat itu menjadi bagian dari Kerajaan Demak.

Menyusul dengan runtuhnya Kerajaan Demak, Surabaya menjadi sasaran penaklukan Kesultanan Mataram, Panembahan Senopati pada tahun 1598, diserang bertubi-tubi oleh Panembahan Seda ing Krapyak pada tahun 1610, Sultan Agung tahun 1614 juga melakukan penyerangan. Aliran sungai Brantas pada zaman itu juga diblokade oleh Sultan Agung, yang akhirnya memaksa Surabaya harus menyerah.

Suatu literatur VOC pada tahun 1620 mempunyai gambaran tentang Surabaya sebagai negara yang kaya raya dan mempunya kuasa. Mempunyai panjang lingkaran sekitar 5 mijlen an Belanda (kira-kira 37 km), dikelilingi kanal dan diperkuat meriam. Tahun tersebut, untuk melawan Mataram, tentaranya sebesar 30.000 prajurit. [M. C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia since c. 1200, 2008].

Ada upaya lain dari Trunojoyo dari Madura untuk merebut Surabaya pada tahun 1665, namun upaya perebutan itu berakhir dengan  depakan oleh VOC pada tahun 1677. Upaya-upaya lain sebenarnya juga terjadi dalam peristiwa sejarah Surabaya, namun dari literatur yang ada, gambaran ini hanya didapat dalam gambaran umum sejarah yang ada.

Selanjutnya dalam perjanjian lain antara Paku Buwono II dengan VOC pada tanggal 11 November 1743, Surabaya diserahkan sepenuhnya kepada VOC. Penyerahan ini berkaitan dengan pengaturan, penguasaan yang menyangut Surabaya. Gedung pusat pemerintahan Karesidenan Surabaya saat itu berada di sebelah barat Jembatan Merah. Jembatan Merah inilah yang membatasi permukiman orang Eropa (Europeesche Wijk) dengan etnis dan penduduk yang berlainan suku seperti Tionghoa, Melayu, Arab dan sebagainya (Vremde Oosterlingen) waktu itu. Sampai pada tahun 1900, Surabaya masih sebatas hanya sampai di Jembatan Merah saja. Namun hingga kini Surabaya sudah membentang lebih luas dari sebelumnya..


Site search